05 Oktober 2018

Sukses

Assalamu’alaikum.

Hai Sahabat HERA, ini pertama kalinya coretanku mengisi Web PT Harda Esa Raksa, wah sangat senang sekali ya tulisan ini bisa diposting di Web perusahaan, suatu kebanggaan tersendiri gitu ceritanya, oke biar lebih akrab kita gunakan bahasa sehari-hari aja ya, ga usah terlalu baku, biar ga kaku, siap.. Perkenalkan namaku Sri Nengsih Nurwinda, kelahiran kota Kuda yang Aman, Sehat, Rindang, Indah (Kuningan Asri) pada tahun 1993 silam, tepat dua tahun di tanggal 1 Agustus 2018 menjabat sebagai Finance Staff di PT Harda Esa Raksa hehe doakan semoga segera menjadi karyawan tetap dan segera marriage dengan si dia yang diharapkan hihi ;) kali ini aku ingin membahas tentang kesuksesan.

Sebelumnya, mau Tanya nih sama teman-teman semua, bagaimana sih seseorang dikatakan sukses? Hmm oke, mungkin semua orang pasti punya standar kesuksesan yang berbeda-beda ya. Ada yang merasa sukses saat sudah meraih impiannya, entah itu impiannya dalam meraih target pendidikannya menembus kampus idamannya, atau saat berhasil menggaet hati cowok ganteng idamannya, atau mungkin saat berhasil bekerja di suatu perusahaan gedean ternama gitu, ada juga yang berfikir kekayaan sebagai wujud kesuksesan dirinya, atau mungkin juga ada yang merasa sukses saat mampu membahagiakan orang tuanya. Namun kebanyakan orang akan merasa sukses saat mereka mampu mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Mmm ya faktanya memang berkata demikian, pandangan masyarakat saat ini kebanyakan menggambarkan sebuah kesuksesan dengan pencapaian materi atau rupiah, saat orang tersebut berhasil mengumpulkan setumpuk rupiah maka orang tersebut dikatakan sukses, saat orang tersebut berhasil bekerja dengan jabatan yang diidam-idamkan kebanyakan orang maka orang tersebut dikatakan sukses, saat orang tersebut berhasil menembus suatu perusahaan / instansi untuk bekerja maka orang tersebut dikatakan sukses.

Misalnya seorang perempuan lulusan Sarjana Ekonomi, kebanyakan orang akan menilai ia sukses jika ia berhasil bekerja di sebuah tempat dengan penghasilan tinggi, akan tetapi ketika perempuan itu menikah dan ia menyandang gelar sarjana, lalu kemudian hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, akankah ada yang menilai ia sukses? Ya, mungkin ada namun jarang, karena kembali lagi menurutku di masyarakat ini penilaian sukses masih sangat erat kaitannya dengan materi atau rupiah. Pasti kebanyakan berfikir sayang sekali, kuliah tinggi-tinggi jika hanya jadi Ibu Rumah Tangga, padahal menjadi seorang ibu merupakan tugas yang sangat berat, ia merawat keluarga dari mulai menyiapkan minum untuk suaminya, sarapan untuk anak-anaknya, sampai dengan mendidik dan membesarkan anaknya. Karena jika anak salah didik maka akan fatal akibatnya bagi kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat, eyy berat ya bicaranya bawa-bawa akhirat, tapi setuju kah kawan? Setujuuuu? Oke terima kasih, sekarang yukk kita ucapkan terima kasih kepada Ayah dan Ibu yang telah merawat, membesarkan kita, mendidik kita sampai saat ini, mari berusaha membahagiakannya, mewujudkan mimpi-mimpinya.

Ketika kita menjadi orangtua, mungkin sesekali berfikir ingin menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi agar ia menjadi anak yang sukses kelak, mudah mencari pekerjaan, dan saat anak kita berhasil bekerja enak maka kita sukses, sepertinya kebanyakan itu yang tersirat ya? Namun adakah yang menganggap sukses ketika anak tersebut misalnya berhasil menjadi seorang yang pandai, misalnya dapat menciptakan suatu inovasi baru yang bisa memudahkan kehidupan ini, atau mungkin saat anak kita menjadi seorang hafidz/ah? Pasti ada, namun aku yakin kebanyakan pasti masih menandakan sukses itu dengan ketika anak kita berhasil bekerja dan memiliki penghasilan tinggi.

Sukses itu apa sih? Ya, benar. Sukses adalah ketika kita bisa meraih impian kita, angan-angan kita, harapan kita, tentunya dengan cara yang baik dan benar, dengan cara yang sesuai kaidah agama kita. Jadi, mungkin bisa dikatakan orang yang bergelimang harta itu tidak sepenuhnya sukses jika harta yang ia dapatkan bukan dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama kita, mengapa? Karena hatinya tidak akan pernah tenang. Seperti halnya ketika sedang ujian, pasti akan gelisah ketika mencontek meskipun hasilnya mendapatkan nilai tinggi namun hal tersebut akan terkesan biasa saja karena didapat dengan jalan mencontek bukan belajar.

Jadi sukses adalah keberhasilan kita meraih apa yang kita harapkan dengan keterikatan kita pada Allah, dengan tetap berpegang pada Allah, dengan menggunakan jalan Allah, dengan yakin bahwa hal tersebut sesuai dengan ajaran Agama. Wallahu’alam bissawab.

Sebagai contoh, yang bisa kita lakukan mungkin sebagai pekerja, semoga kita bisa berkontribusi dengan baik terhadap perusahaan / instansi di mana kita bekerja dengan tidak melupakan ajaran Agama, misalnya waktunya sholat kita sholat, jangan sampai lupa sholat karena sibuk dengan pekerjaan, semoga pekerjaan kita bisa diapresiasi dengan baik pula oleh perusahaan / instansi / atasan dan juga rekan-rekan di tempat kita bekerja, kita niatkan bekerja untuk beribadah, jika pekerjaan kita dapat diapresiasi dengan baik, maka tentunya financial pun akan mengikuti.

Sekian dariku ya, mohon maaf apabila ada salah salah kata, apabila ada hal yang menyinggung teman-teman semuanya, apabila pemikirannya salah mohon diluruskan. Diakhiri wabillahi taufik walhidayah, wassalamu’alaikum WR.WB.

Author :

Sri Nengsih Nurwinda

Share Artikel