02 Juli 2018

Mengenal Lebih Dalam Sistem Kerja Outsourcing Biar Pengetahuanmu Tentang Dunia Kerja Lebih Terbuka

Saat mengunjungi sebuah perusahaan, kamu pasti pernah melihat ada beberapa karyawan yang memakai seragam berbeda. Kebanyakan dari karyawan tersebut menduduki posisi seperti customer service sampai office boy. Jika kamu terliti lebih dalam lagi, mereka sebenarnya bukan bagian inti dari perusahaan yang kamu datangi itu. Dalam istilah industri, mereka termasuk dalam sistem kerja outsourcing.

Di dalam dunia kerja, outsourcing seakan menjadi salah satu hal yang paling dihindari. Sebab banyak orang memiliki pandangan bahwa bekerja pada perusahaan outsourcing itu lebih banyak ruginya. Apalagi jika kerugian tersebut terkait dengan pendapatan yang diterima. Namun, sebelum memberikan pandangan yang negatif pada perusahaan outsourcing tersebut, mari kita mengenal segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem kerja itu. Siapa tahu, setelah kamu sudah mengenal sistem kerja outsourcing lebih dekat, pengetahuanmu tentang dunia pekerjaan akan semakin terbuka.

1. Karena tak kenal maka tak sayang, mari terlebih dahulu mengenal apa arti kata outsourcing itu

Menurut situs entrepreneur.comoutsourcing merupakan penggunaan jasa di luar tenaga kerja yang dimiliki untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu. Keberadaan sistem kerja outsourcingdulunya memang kurang diminati. Namun akibat kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia, beberapa orang mau tak mau memilih untuk bekerja dengan sistem ini. Sistem kerja outsourcing ini hanya berlaku pada Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja (PPJP). Perusahaan tersebut merupakan perusahaan alih daya, yang nantinya memiliki tugas untuk menyalurkan para tenaga kerja untuk menjalankan fungsi-fungsi non-inti dari perusahan yang membutuhkan jasa mereka.

2. Mengenai cara perekrutan, sistem kerja outsourcing ini tak jauh berbeda pada perekrutan karyawan fulltime di perusahaan

Sistem perekrutan outsourcing ini tak berbeda jauh dengan perekrutan pada umumnya. Alurnya pun hampir sama, yaitu mengumpulkan data diri, tes tertulis, psikotest, hingga wawancara. Yang menjadi pembeda antara sistem perekrutan outsourcing dengan perekrutan biasa adalah pihak yang melakukan. Jiwa perekrutan karyawan fulltime dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Sistem outsourcing ini merekrut para calon pekerja di bawah naungan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja (PPJP). Dalam kasus istimewa, outsourcing ini juga bisa dilakukan oleh perusahaan inti. Namun biasanya dilakukan pada jangka waktu tertentu.

3. Posisi yang ditawarkan juga terbatas. Kebanyakan merupakan posisi yang tak berhubungan langsung dengan bisnis sebuah perusahaan

Mungkin inilah penyebab mengapa sistem kerja outsourcing seringkali dipandang sebelah mata. Posisi yang ditawarkan oleh PPJP ini kebanyakan terbatas pada beberapa bagian saja. Dan posisi yang ditawarkan tersebut sering kali tidak berhubungan langsung dengan bisnis sebuah perusahaan Seperti customer service, cleaning service, office boy, security, dan lain-lain.

4. Sistem pembayaran tidak langsung berhubungan dengan perusahaan inti, melainkan lewat perusahaan alih daya

Nah, sekarang mari membahas perihal pendapatan. Perihal pemberian upah dan kesejahteraan sistem kerja outsourcing ini juga sudah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Tepatnya UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 pasal 66 ayat 2 poin c. Pada Undang-Undang tersebut tertulis bahwa “perlindungan upah dan kesejahteraan, syarat-syarat kerja, serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh“. Jadi untuk masalah pemberian upah ini, perusahaan tempat bekerja tidak bertanggungjawab memberikannya. Melainkan yang bertanggungjawab memberikan upah serta tunjangan lainnya adalah PPJP.

Share Artikel