“Fraud” antara Opportunity, Motivation & Rationalization

Teman saya seorang staff, dan dia pernah menjadi anak buah saya.  Saya tahu persis bagaimana kondisi ekonomi dan sosialnya.  Dan secara persuasif saya lakukan pendekatan yang humanis. “Bekerjalah dengan IKHLAS, JUJUR dan SABAR”.  dan sebagai orang lapangan, maka 3 unsur ini sangat MUTLAK diperlukan.  Tanpa rasa ikhlas, sabar dan sikap jujur, sulit rasanya melakoni kerja lapangan, tidak ditempat sekarang dia bekerja, namun dimanapun dia bekerja, tetap akan sulit.

Akhirnya saya pindah wilayah kerja, dan dia masih bertahan dengan pekerjaannya sambil membawa stigma tersebut.  Sampai suatu hari, beberapa tahun kemudian, dia BB saya, “Pak…boleh saya telpon”.  Sebagai seorang partner kerja, dan kita cukup dekat dahulu, tentu senang-senang saja menyambung kembali cerita-cerita masa lalu.  Tak dinyana, ternyata dia “Jujur” berkata “Saya khilaf, Pak…”.  Dia mengakui apa yang sudah dilakukannya adalah sebuah hal yang BODOH dan STUPID alias CETEK, PICIK, CHICKEN, dan lain-lain lah istilahnya.  Dia mengakui terlalu PERCAYA dengan rekan kerja, sehingga banyak melanggar ATURAN, SOP, KEBIJAKAN yang sudah BAKU dan sudah menjadi FUNDAMENTAL kerja seorang Officer Lapangan.

Dia FRAUD……!!!!

Kata-kata yang sangat tidak ingin didengar oleh siapapun, entah karyawan itu sendiri, supervisornya, atau bahkan managernya sekalipun.  Jauh dilubuk hatinya, dia MENYESAL.  Namun itulah dia, Penyesalan selalu datang Terlambat.  Akhir cerita, maka dia akan berurusan dengan aparat hukum, karena kerugian perusahaan.

Fraud, adalah tindakan yang PICIK, LICIK, CéTéK, BODOH dan STUPID

Mengapa Fraud seolah menjadi “Pembenaran” dan “Pembelaan”, terlebih dilakukan oleh para professional yang sudah EXPERT dalam bidangnya.  Tidak asing kiranya Anda melihat dunia bisnis penuh INTRIK, KONGKALIKONG, TIPU DAYA, dan muslihat lainnya.  Semua berujung pada 3 hal yakni :

  1. OPPORTUNITY

Orang menganggap BENAR apa yang dilakukannya, terlebih jika akan memberi UNTUNG.  Sehingga sekecil apapun kesempatan itu, jika dapat diraih maka akan diambilnya.  Contoh misal, Anda melihat selembar uang seratus ribuan jatuh dari saku seseorang yang berjalan didepan Anda.  Jika dia berlalu beberapa meter saja, maka akan ada kesempatan bagi Anda “menemukan” uang 100rb.  Inilah yang disebut dengan opportunity, Anda akan menunggu, dan ketika waktunya pas, maka Anda akan untung. Apakah salah, jika Anda nemu duit…??? TIDAK. Saya juga sering nemu duit di jalan, dan saya selalu pungut, untuk dikumpulkan, meski recehan, namun lumayan untuk ngasih ke polcepek.

Namun, kondisi tersebut diatas berbeda.  Anda melihat “akan” ada sebuah peluang yang menguntungkan, yakni seseorang akan kehilangan aset mereka tanpa sengaja dan tanpa disadari, dan pastinya mereka akan “nrimo”, duitnya hilang.  Dan Anda melihat peluang untung tanpa harus “melukai” orang lain.

Apakah yang Anda lakukan…???

Semua kembali pada KARAKATER dan KEPRIBADIAN masing-masing. Silakan ditelaah sendiri.

Inilah Faktor pertama FRAUD terjadi.  OPPORTUNITY.  Dan sebagai pemimpin bisnis, Anda harus mampu “MENUTUP” semua celah peluang orang berlaku PICIK dan LICIK ini.  Lakukanlah INTERNAL CONTROL yang komprehensif.

  1. MOTIVATION

Nyambung dengan faktor peluang diatas.  Selanjutnya fraud akan dimediasi oleh namanya MOTIVATION.  Ketika peluang tertutup atau cukup sulit didapat, maka faktor motivasi akan mampu membuat kesempatan itu muncul, meski dalam hitungan detik.  Anda tahu bahwa dalam perjuangan hidup seseorang, MOTIVASI akan membawa SEMANGAT, GAIRAH, ENERGI dan KERJA KERAS.

Teman saya, harus mampu pulang pergi sejauh 100 km setiap hari.  Kerja di Bekasi rumah di Bogor, dan dilalui setiap pagi setiap hari, bermacet-macet dan berjam-jam.  Namun motivasi adalah semangat kerja, gairah hidup dan energi ekstra untuk bekerja keras.  Sudah bertahun-tahun dia lakoni, dan ngga masalah tuh….

Fraud, terlepas dari adanya kesempatan dan peluang, unsur internal psikologis seseorang menjadi pendorong yang cukup kuat pula.  MOTIVATION adalah semangat mendasar untuk meraih sesuatu. Apa saja yang memotivasi orang bertindak PICIK, LICIK, BODOH dan STUPID ini…??

Bisa jadi GAYA HIDUP…. Terbiasa dengan gaya hidup yang melebihi KAPASITAS diri, maka orang banyak berhutang, mencari hutang, berlebihan berhutang, mencari side job, pekerjaan sampingan, bisnis sambilan, dan bahkan menjurus pada NYOLONG, MALING, NIPU dan sebagainya.  Biar KERE asal KECE adalah stigma konsumerisme yang menggiring orang pada lifestyle berlebih.

Pernahkah Anda bayangkan Orang Kaya itu lifestyle nya MEWAH…??  Tentu pernah.  Namun sejatinya orang kaya tidak akan berpatokan pada Gaya Hidup, karena mereka Hidup sudah Gaya.  Siapa yag tidak kenal Warren Buffet, Bill Gates, atau anak muda FB Owner, Zuckerberg… HIDUP mereka sangat GAYA, meski GAYA HIDUP nya biasa saja. Fraud, lebih kepada GAYA HIDUP, yang ingin dilihat dan ditonton orang, namun kemampua dan kapasitas nya terbatas.  Korelasi lainnya adalah Fraud karena KURANG SYUKUR dengan apa yang sudah dimiliki.

  1. RATIONALIZATION

Faktor terakhir adanya fraud adalah, Rasionalisasi…atau dalam bahasa psikologi adalah Making Excuses.  Perilaku yang KONTROVERSIAL yang DIBENARKAN dan DIJELASKAN seolah tampak benar atau rasional.

Teman saya seorang staff lapangan, sering terlambat datang ke kantor, dan dia berasalan bahwa tengah mendatangi KLIEN di pagi hari sebelum ke kantor.  Tindakan ini “mungkin” benar pada hakikatnya, namun itulah bentuk rasionalisasi yang mereka lakukan.  Follow Up Klien sebelum jam kantor…?? Tentu BOLEH dan BENAR adanya…namun jika hampir setiap hari…apakah ini benar…??? Sepertinya itulah bentuk dari Membuat Alasan (Making Excuses), atau istilah lain dari Rationalization.

Fraud, adalah Pembenaran dan Pembelaan dari Tindakan PICIK, LICIK, CETEK, STUPID dan BODOH

Teman saya, MEMBENARKAN jika dia menerima komisi, uang, barang dan bentuk lainnya dari rekan kerja, dealer, agen, partner atau kolega bisnis.  Dia Fraud, dan dia akhir RESIGN dari perusahaan. Teman saya, punya MOTIVASI menyenangkan keluarganya, sehingga menggunakan wewenang dan kuasanya untuk MEMINTA kepada para sub-ordinat mereka.  Dia Fraud, dan akhirnya dipindahkan ke departemen lainnya.

Teman saya, melihat PELUANG bahwa proses rekonsiliasi dana masih dapat di “main” kan.  Dan terbukti akhirnya ratusan juta melayang dari Balance Sheet perusahaan.  Dia Fraud, dan akhirnya jadi PENGACARA terkenal…”Pengangguran Banyak Acara”…..

Fraud, pada akhirnya menjadi efek pada Diri Sendiri dan pastinya menyakiti Perusahaan Anda. Say No Fraud, dan jadilah PRIBADI yang penuh SYUKUR.

https://www.linkedin.com/pulse/fraud-antara-opportunity-motivation-rationalization-sadat-bahri?trk=hb_ntf_MEGAPHONE_ARTICLE_POST

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked