13 Agustus 2019

Kombinasi Indah antara Kerja dan Ibadah

Bekerja identik dengan aktivitas duniawi untuk pemenuhan hidup sehari-hari. Tidak sedikit juga manusia yang menjadikan bekerja untuk aktivitas beribadah. Ibadah dan Kerja  atau sebaliknya mengesankan bahwa  ibadah  berbeda dengan kerja.  Ini karena dua hal itu diselingi oleh kata  dan  yang mengandung arti bahwa keduanya berbeda. Dengan demikian, Ibadah berbeda dengan kerja. Hal tersebut dapat dibenarkan, karena memang banyak orang yang membedakannya dalam praktik hidup mereka. Misalnya, seseorang beribadah di masjid atau gereja dalam arti menyadari kehadiran Tuhan dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Namun, ketika di kantor atau pasar, ia bekerja tanpa mengingat kehadiran Tuhan, bahkan bisa jadi melanggar perintah-Nya. Padahal, lebih baik secara konseptual juga secara praktis, bila kita berkata bahwa “ibadah adalah kerja” atau “kerja adalah ibadah”, sehingga menjadikan aktivitas yang dilakukan menjadi ibadah dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha esa.

Kerja didefinisikan sebagai penggunaan daya. Manusia secara garis besar dianugerahi Tuhan empat daya pokok, yaitu daya fisik, yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan; daya pikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan; daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan, serta beriman, merasakan, dan berhubungan dengan Allah Sang Maha Pencipta; dan daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan, serta menanggulangi kesulitan.

 Ada dua ragam ibadah, yaitu: Pertama, ibadah murni, yaitu kegiatan yang telah ditentukan Tuhan atau Nabi-Nya dalam hal cara, waktu, kadar, atau tempatnya. Bagi seorang muslim, shalat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah murni, karena cara, waktu, atau kadarnya telah ditentukan Tuhan. Kedua, ibadah umum, yaitu semua aktivitas yang dilakukan dengan motivasi memenuhi perintah Tuhan. Berdandan, misalnya, dapat bernilai ibadah jika motivasinya ingin tampil indah sebagaimana diperintahkan Tuhan, bukan untuk merayu dan menggoda. Bahkan, Nabi Muhammad Saw. pernah menyatakan bahwa hubungan seks dengan pasangan yang sah pun merupakan ibadah, selama motivasinya dibenarkan agama. Dengan demikian, motivasilah yang menjadikan satu aktivitas dinilai ibadah atau bukan. Dua orang yang menggunakan pisau yang sama dalam memotong kaki seseorang, dapat berbeda nilai kegiatannya tergantung dari motivasinya. Jika yang pertama seorang dokter yang mengamputasi pasiennya, maka aktivitasnya ini dapat menjadi ibadah, berbeda dengan seorang penjahat yang melakukan hal serupa.  Jika demikian, semua aktivitas dapat menjadi ibadah,  selama motivasinya sejalan dengan tuntunan Tuhan.    

Nah, beberapa poin di bawah semoga dapat memberi sedikit tambahan gambaran mengenai hubungan antara bekerja dan beribadah.

1. Perhatikan Niat
Atur niat agar pekerjaan kita menjadi kesempatan untuk mendulang pahala. Sebagai contoh, kita niatkan ketika bekerja untuk mendapat rezeki yang halal. Kuatkan niat untuk hal-hal yang monumental lagi bermanfaat. Seperti misalnya ingin berangkat haji bareng orang tua, membantu keuangan keluarga, berbagi manfaat untuk orang banyak, dan masih banyak lagi. Sependek yang ku ketahui, berniat baik sudah dihitung sebagai amalan baik juga. Mengapa tidak kita lakukan?

2. Atur Prioritas
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ketika mengelola banyak hal adalah dengan mengatur prioritas. Hal-hal mana saja yang termasuk penting dan mendesak. Mana saja yang penting namun bisa ditunda. Apa saja yang bisa disebut kurang penting tapi mendesak. Atau kegiatan yang kurang penting dan dapat ditunda. Mengatur prioritas lebih mudah ketika kita menuliskannya lalu mempertimbangkannya masak-masak. Perhatikan juga prioritas kita untuk beribadah seperti sholat, mengaji, dan lain sebagainya.

3. Optimalkan Kualitas
Setiap manusia memiliki jatah waktu yang sama tiap harinya. Meski jatah umur pasti berbeda. Dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Seorang kawan pernah berkata, bahwa salah satu tanda berkahnya waktu adalah ketika seseorang mampu menyelesaikan banyak hal dengan dengan kualitas terbaik di jatah waktu yang sama.

4. Ada Hak yang Harus Dipenuhi
Manusia memiliki tubuh yang harus dijaga. Tubuh kita punya hak untuk dirawat. Olahraga jangan lupa. Istirahat secukupnya. Keluarga kita memiliki hak atas diri kita. Dalam konteks sosial bermasyarakat, tetangga juga punya hak untuk kita sapa dan kenali. Berbaur dengan mereka, merajut makna dalam hidup.

5. Kekuatan Doa
Temani setiap langkah dengan doa. Sebelum, saat berproses, dan ketika mengakhiri kegiatan apapun. Doa adalah senjata. Memperkuat jalan, memperkokoh hati, melindungi dari hal-hal yang tak diinginkan. Juga sebagai tanda bahwa kita hanyalah manusia. Semua hasil terbaik adalah kuasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Referensi : 
https://medium.com/@kangkikur/kombinasi-indah-antara-kerja-dan-ibadah-1a8ad637467b
https://psq.or.id/artikel/ibadah-dan-kerja/

Author : Salia Putri

Share Artikel